Hasil Pemeriksaan Lab Keluar, Bakteri E. coli Ditemukan pada Nasi dan Melon

Kediri — Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga berkaitan dengan sakitnya sejumlah siswa beberapa sekolah di Kota Kediri keluar.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri, dr. Hamida, mengatakan bakteri Escherichia coli (E. coli) ditemukan pada sampel nasi dan buah melon yang diperiksa di laboratorium kesehatan daerah Kota Kediri.

“Ditemukan E. coli di sampel nasi dan buah melon,” kata dr. Hamida, Senin (21/9).

Berdasarkan hasil pemeriksaan, pada sampel nasi ditemukan satu bakteri, sedangkan pada sampel melon ditemukan tujuh. Sementara itu, hasil pemeriksaan sampel ayam masih ditunggu.

“Kadarnya di nasinya itu, di nasi satu, di melon ada tujuh,” ujarnya.

Sampel yang sebelumnya dikirim ke laboratorium terdiri atas nasi, ayam, dan melon. Dinkes masih menunggu hasil pemeriksaan terhadap ayam untuk mengetahui apakah terdapat kontaminasi bakteri.

Terkait dugaan penyebab kontaminasi, dr. Hamida menyebut hal tersebut kemungkinan berkaitan dengan proses pengolahan makanan. Mulai dari kondisi bahan mentah, proses pencucian, penyimpanan, pemasakan, hingga jeda waktu antara makanan selesai dimasak dan dibagikan kepada siswa.

“Ya mungkin dari pemrosesannya. Mulai dari bahan mentahnya mungkin, atau setelah dimasaknya mungkin jarak antara makanan masak sama diberikan,” jelasnya.

Menurutnya, proses pengemasan makanan juga perlu diperhatikan. Makanan yang masih panas kemudian langsung ditutup dapat menjadi salah satu kondisi yang memungkinkan bakteri berkembang.

Dinkes Kota Kediri selanjutnya akan memberikan advise kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar seluruh standar operasional prosedur (SOP) terkait keamanan dan sanitasi makanan benar-benar diterapkan dalam praktik sehari-hari.

“Semua sudah ada SOP-nya, tinggal SOP-nya itu dijalankan atau tidak pada praktiknya,” katanya.

Sementara itu, kondisi siswa yang sebelumnya menjalani perawatan di RSUD Gambiran menunjukkan perkembangan positif. Dari total 15 anak yang sempat dirawat, sebanyak 13 sudah diperbolehkan pulang. Kini tersisa dua anak yang masih menjalani observasi.

“Yang dua ini kondisinya sudah membaik. Sudah baik, tinggal kita observasi lebih lanjut,” ujar dr. Hamida.

Ia menjelaskan, gejala yang dialami para siswa berbeda-beda, mulai dari ringan hingga berat. Perbedaan tersebut salah satunya dipengaruhi oleh daya tahan tubuh masing-masing anak.

“Itu karena tergantung daya tahan tubuhnya, bawaan berbeda-beda. Yang bergejala ada ringan, sedang, berat. Yang ringan itu dibawa ke puskesmas, lalu yang dirawat di RSUD Gambiran itu yang sedang sampai berat,” pungkasnya.kin/mbg

Related posts

Leave a Comment